Konsultasi Buka: 07.00 - 21.00 WIB
WA Admin
Deep Boring Mesin & SPT24 Oktober 2026•8 menit baca

Pengujian Batuan Inti: Menghitung Core Recovery (CR) dan Rock Quality Designation (RQD)

BA
Ir. Baskoro Adiwijaya, S.T., M.Eng., IPM.
Spesialisasi: Fondasi Gedung Bertingkat & Mitigasi Stabilitas Tanah • Principal Geotechnical Engineer
Rangkuman Eksekutif

Nilai RQD dan Core Recovery adalah parameter kunci dalam rekayasa batuan untuk fondasi tiang jembatan, terowongan, dan bendungan. Pahami cara perhitungan dan standar pemilahannya.

Definisi dan Prosedur Pengukuran Core Recovery (CR)

Ketika mata bor intan memotong formasi batuan keras, batuan silindris akan masuk ke dalam tabung pengambil inti (core barrel). Setelah satu siklus pengeboran (drilling run) sepanjang L_run (umumnya 1.0 m atau 1.5 m) selesai, tabung diangkat ke permukaan dan sampel dikeluarkan secara hati-hati ke dalam peti kayu penyimpan batuan (core box).

Dua rasio pemulihan inti batuan yang wajib dihitung:

  1. 1 Total Core Recovery (TCR): Persentase total panjang seluruh material batuan (baik yang utuh, retak, maupun serpihan) yang berhasil diangkat dibanding panjang kemajuan pengeboran nyata:

TCR = (Total Panjang Seluruh Fragmen Batuan / L_run) × 100%

  1. 2 Solid Core Recovery (SCR): Persentase panjang silinder batuan penuh berdiameter utuh tanpa retakan longitudinal terhadap panjang run pemboran.

Metodologi Perhitungan RQD Berdasarkan Standar Deere

Rock Quality Designation (RQD) dikembangkan oleh D.U. Deere pada tahun 1964 dan dibakukan dalam ASTM D6032. RQD memberikan indeks kuantitatif derajat keterkekaran (fracturing) dan pelapukan massa batuan.

Rumus RQD: RQD = (∑ Panjang Potongan Batuan Inti Utuh ≥ 10 cm / L_run) × 100%

Aturan Pengukuran Panjang 10 cm yang Sangat Ketat:

  • › Pengukuran panjang potongan batuan diukur tepat di sepanjang sumbu tengah silinder (centerline length), bukan di tepi sisi terpanjang.
  • › Hanya potongan silinder batuan yang keras dan segar (sound rock) dengan panjang minimal 100 mm (10 cm) yang boleh dijumlahkan.
  • › Batuan yang telah mengalami pelapukan parah hingga menjadi lunak dan rapuh (dapat digores dengan kuku) TIDAK BOLEH dihitung ke dalam nilai RQD meskipun panjangnya melebihi 10 cm.

Membedakan Retakan Alami Batuan (Joints) vs Retakan Mekanik Akibat Pengeboran

Salah satu kesalahan teknis paling fatal yang sering menurunkan nilai RQD batuan secara artifisial adalah ketidakmampuan teknisi membedakan retakan alami dari retakan mekanik:

  1. 1 Retakan Alami (Natural Joint / Discontinuity): Permukaan bidang patahan tampak kusam, terlapukan, seringkali memiliki endapan mineral pengisi (seperti kalsit, oksida besi merah-kecokelatan, atau lempung). Sudut retakan umumnya mengikuti pola bidang perlapisan formasi geologi.
  2. 2 Retakan Mekanik (Mechanical / Drilling Induced Fracture): Permukaan patahan tampak sangat segar, bersih, kasar bersudut tajam, dan tidak memiliki jejak pelapukan atau noda mineral. Retakan ini terjadi akibat getaran stang bor, puntiran core lifter, atau benturan palu teknisi saat mengeluarkan batuan dari core barrel.

Standar ASTM D6032 menggariskan: Potongan batuan yang retak akibat proses mekanik wajib disatukan kembali (reconstructed fit). Bila setelah disatukan panjang totalnya ≥ 10 cm, maka potongan tersebut SAH dihitung sebagai satu kesatuan ke dalam nilai RQD.

Tabel Klasifikasi Mutu Massa Batuan Berdasarkan Persentase RQD

Nilai RQD (%)Klasifikasi Kualitas Batuan (Deere)Kerapatan Bidang DiskontinuitasKapasitas Daya Dukung Ijin qa (kg/cm²)Kebutuhan Perkuatan
0 – 25%Sangat Buruk (Very Poor)Sangat rapat / hancur berkeping< 10 (Perlu perlakuan khusus)Wajib grouting masif & casing baja
25 – 50%Buruk (Poor)Banyak retakan / kekar terbuka10 – 25Perkuatan tiang pancang / rock bolts
50 – 75%Sedang (Fair)Kekar dengan spasi sedang25 – 50Fondasi tiang bor soket batuan standar
75 – 90%Baik (Good)Kekar berjarak lebar, batuan masif50 – 100Soket batuan pendek / footplat langsung
90 – 100%Sangat Baik (Excellent)Batuan utuh tanpa bidang lemah> 100 (Hingga ratusan kg/cm²)Fondasi langsung batuan tanpa reduksi

Penerapan Nilai RQD dalam Klasifikasi RMR Bieniawski dan Q-System Barton

Dalam rekayasa struktur bawah tanah modern, nilai RQD tidak berdiri sendiri melainkan menjadi parameter input utama pada sistem klasifikasi massa batuan:

  • › Rock Mass Rating (RMR - Bieniawski): Nilai RQD menyumbang bobot skor hingga 20 poin dari total 100 poin parameter kualitas batuan bersama kuat tekan uniaksial (UCS), jarak spasi bidang diskontinuitas, kondisi kekar, dan keberadaan air tanah.
  • › Q-System (Barton): Parameter RQD ditempatkan sebagai pembilang pada suku pertama rumus Q = (RQD / Jn) × (Jr / Ja) × (Jw / SRF), di mana nilai ini merepresentasikan ukuran blok batuan utuh.

Kesalahan Umum Operator Lapangan dalam Mengukur dan Menyusun Inti Batuan di Core Box

Insinyur pengawas wajib memastikan disiplin berikut di lokasi proyek:

  1. 1 Pemasangan Balok Pemisah (Wooden Core Blocks): Setiap kali satu siklus pemboran selesai, operator wajib menempatkan balok kayu bertuliskan kedalaman awal, kedalaman akhir, panjang kemajuan, dan nilai CR/RQD secara permanen.
  2. 2 Penataan Searah Jarum Jam: Batuan inti wajib disusun di dalam lajur kotak kayu dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah, mengikuti orientasi kemajuan pemboran asli.
  3. 3 Dokumentasi Fotografi Berkualitas Tinggi: Seluruh core box wajib difoto dalam kondisi basah (disiram air bersih secara merata) dan kondisi kering, dilengkapi penggaris pembanding dan papan identitas proyek sebelum kotak ditutup rapat.

Kepatuhan Standar Teknis & Legalitas PBG

Seluruh prosedur pengujian yang diulas pada artikel ini mengacu pada SNI 2827:2008 (Uji Penetrasi Konus Statis), ASTM D1586 (Standard Penetration Test), dan SNI 8460:2017 (Persyaratan Perancangan Geoteknik). Penyelidikan tanah wajib disahkan oleh Insinyur Profesional pemegang sertifikat SKA/SKK Geoteknik resmi untuk keabsahan SIMBG Dinas PUPR.

Struktur Silo & Kluster Topik

Pilar Silo: Deep Boring Mesin & SPT

Kluster 7 dari 13 Artikel

Pengeboran inti rotary drilling, pengujian penetrasi standar N-SPT ASTM D1586, dan pengambilan sampel tanah UDS. Artikel di bawah ini saling melengkapi untuk memberikan pemahaman menyeluruh seputar pilar Deep Boring Mesin & SPT:

Layanan Uji Lapangan Siaga

Butuh Penyelidikan Tanah untuk Proyek Anda?

Konsultasikan titik uji sondir CPT, boring SPT, atau uji lab bersama tim teknisi kami. Respon cepat & estimasi penawaran transparan.

Chat WA Admin

Profil Penulis & Reviewer Teknis

BA

Ir. Baskoro Adiwijaya, S.T., M.Eng., IPM.

Principal Geotechnical Engineer • 22+ Tahun Pengalaman

Verified Expert
Spesialisasi Bidang:Fondasi Gedung Bertingkat & Mitigasi Stabilitas Tanah
Sertifikasi & Afiliasi:SKA Utama Geoteknik LPJK / Anggota Ahli HATTI & PII

Praktisi dan konsultan rekayasa geoteknik dengan pengalaman lebih dari dua dekade menangani investigasi tanah gedung pencakar langit, analisis likuifaksi, dan perancangan deep foundation di berbagai wilayah seismik Indonesia.